Rabu, 13 Mei 2015

Bicara tentang keikhlasan menjadi istri

Sekilas tugas menjadi istri terdengar mudah. Well cuma ikuti apa kata suami. Gampang kan ya. Itu yang terlintas di benak saya sebelum menikah. Bicara pengabdian dan keihlasan sekarang ternyata tak semudah prakteknya. Alkisah saya dan suami saat ini dalam proses pindahan dan merenovasi rumah. Rumah yang beli suami biaya renovasi juga dia biaya beli semua isi rumah juga sebagian besar dia. Ya teorinya semua yang punya dia juga punya saya. Tapi tetap saja tidak semudah itu. Sebagai bread winner dan main founder tentu suara suami lah yang suaranya paling harus didengar. Disitu kadang saya merasa......powerless. Mungkin kondisinya akan berbeda kalau saya datang dari kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Tapi somehow pendidikan membuat ego saya menjadi lebih tinggi. Disitulah 'nrimo' itu menjadi sesuatu yang berat. Saya seolah tidak punya suara, tidak ada hak untuk menentukan apapun. Oh begini ya rasanya. Tapi bahtera ini harus tetap saya jaga. Agar tidak goyah maka seseorang harus mengalah. Harus lebih banyak diam. Dan disinilah saya berusaha untuk menerima dan diam. Mungkin karena inilah Allah mengirim saya untuk diklat di tempat yang jauh dalam waktu yg agak lama. Biar bisa refleksi diri dan mengurangi konflik. Meredam ego dan mengalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar